MENCARI PEMUDA NEGARAWAN SEPERTI NATSIR

Gambar WhatsApp 2025-10-30 pukul 09.29.44_d0405d4d

Memilih islam merupakan pilihan yang terbuka bagi setiap individu, tapi menjadi muslim sejati tentu memiliki tantangan yang berbeda daripada sekadar menjadi muslim pada umumnya.

Di antara banyaknya tokoh pemuda Islam yang mendunia dan diangkat sebagai pahlawan nasional, Mohammad Natsir memiliki warna kecermelangannya sendiri. Beliau bergelar Datok Sinaro Panjang dengan kedalaman pengetahuan Islam yang sungguh luar biasa.

Beliau pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia ke-5, Presiden Liga Muslim Dunia, dan beliau juga otak pengusul mosi integral di tengah pertarungan ide antara unitarisme dan federalisme, yang kesemuanya itu mempengaruhi rute jalan kebangsaan dan kenegaraan Republik Indonesia.

Pada masanya pemuda bersumpah, bertumpah darah satu Tanah Air Indonesia, berbangsa satu Bangsa Indonesia, dan menjujung bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Sumpah ini menjadi tonggak penting permulaan perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka mosi integral Mohammad Natsir menjadi tonggak kesatuan di tengah ketegangan politik berbangsa dan bernegara.

Namun, yang paling fenomenal dari Mohammad Natsir justru terletak pada peletakan dasar berpikir tentang Islam, yang mengantarkan ia pada dasar-dasar pemikiran besar lainnya.

“Islam is indeed much more than a theology system, it is a complete civilization.” (H.A.R Gibb, Whither islam).

Itulah ungkapan seorang pujangga ahli tarikh yang dikutip Mohammad Natsir untuk menggambarkan Islam yang ia yakini pemaknaannya. Islam bukanlah semata-mata agama, melainkan sebuah pandangan hidup yang meliputi spiritualitas, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Bahkan islam adalah sumber segala perjuangan dan revolusi itu sendiri; sumber penentang terhadap penjajahan, eksploitasi manusia, perlawanan terhadap kebodohan, kejahilan, dan pendewaan terhadap dzat yang lemah. Islam mendorong kita untuk memperjuangkan keadilan, kesejahteraan, kemakmuran, dan kemajuan.

Islam yang harusnya kita yakini adalah Islam yang tidak memisahkan urusan agama dan negara. Islam bahkan mengajarkan nasionalisme sebagai suatu alat untuk mencapai hal yang lebih besar, yaitu pengabdian Ilahi sebagai makhluk yang Rabbaniyyah.

Lihatlah, bagaimana suatu daratan (jazirah) yang gersang, tak berpenghuni, tidak menarik bagi orang-orang untuk tinggal menetap, orang-orangnya bodoh, dianggap terbelakang bahkan peradaban besar pada masanya tidak berpikir untuk menguasai daratan tersebut. Namun, ketika diturunkan anugrah kenabian kepada salah satu penduduknya, dalam kurun waktu yang relative singkat, mereka bergerak menggemparkan dunia; membawa perjuangan yang sangat berarti dalam sejarah umat manusia. Itulah Jazirah Arab yang berubah saat menerima kehadiran islam yang utuh dan universal. Mengubah tatanan sosial menjadi egalitarian. Bahwa manusia yang paling unggul adalah mereka yang paling bertaqwa, tentu dengan apresiasi capaian ketaqwaan yang berbeda beda.

Suatu kali, gagasan tentang Islam yang universal dan utuh sebagai sistem kehidupan, mendapat pertanyaan yang cukup menarik:

“Apakah ketika islam memimpin mampu membawa pada kejayaan?”

Maka jawabnya; jika Eropa mengalami permulaan kejayaan pada abad 15 melalui Renaissance-nya, maka ketahuilah 600 tahun yang silam, Islam telah berhasil membawa dunia pada kejayaannya. Di saat Eropa masih membelenggu hak-hak manusia, melarang pengembangan ilmu pengetahuan, dan kemiskinan yang terjadi pada mayoritas masyarakatnya. Coba tanyakan pada Euclydes, George Bachtisyu, atau tabib-tabib dari negeri Jandisapura – Syiria dan para cendikiawan cerdik pandai dari negeri Persia, Romawi, bahkan Yunani. Mereka dilindungi hak-hak kemanusiaanya, didorong melakukan pengembangan ilmu pengetahuan, bahkan diundang ke Baghdad berbagi pengetahuan, dan dihadiahi 300 dinar setiap orang.

Bisakah kalian bayangkan betapa megahnya saat itu negeri 1001 malam, dan betapa majunya peradaban umat manusia. Maka tidak heran gagasan mosi integral lahir dari seorang dengan pemikiran islam yang utuh. Hal ini gambaran sekaligus pembuktian bahwa islam kompatibel dengan kehidupan umat manusia di berbagai sisi. Islam menguatkan, melengkapi, bahkan menginspirasi.

Tugas kita hari ini adalah melahirkan sebanyak mungkin Natsir-Natsir muda, lalu menempatkan mereka di panggung-panggung kekuasaaan serta kepemimpinan Indonesia yang kelak bukan hanya peduli pada dirinya sendiri, tapi juga mampu menjadi tonggak terwujudnya Indonesia Emas 2045.